Minggu, 11 November 2012

BAB 1 Kelahiran sang Bayi




            Saat malam tiba,mendung mengelilingi desa itu.Sang istri kini sedang hamil tua,menunggu kedatangan  sang suami yang sedang bekerja sebagai pemulung.Petir  bergemuruh dimana-mana disertai angin kencang yang meniup desa itu.tiba-tiba pintu dirumah sang istri berbunyi seperti ada seseorang yang datang.

“tok,tok,tok Assalamualaikum,nap tolong buka pintunya,Abang kedinginan disini nih…”sahutnya,Sang Istripun menyadari bahwa suara itu adalah Suamiya.Nafisah Cepat-cepat membukakan Pintu.

“walaikum salam,Abang ko’ baru pulang...nap disini menanti Abang,cepat masuk Bang.Pasti abang lelah biar nap masakin Indomie yah…?”jawab istrinya.

“ya boleh,terimakasih yah…Abang dah lapar banget neh” jawab sang suami.

            Setelah hujan reda,merakapun pergi keruangan tengah,biasanya setelah seharian kerja sang suami dengan Istrinya selalu berdiskusi di ruangan itu.Namun,pada malam itu listriknya mati alias mati lampu.Sehingga mereka terpaksa memekai Lilin sebagai penerangnya.

“Nap,hari ini Abang kerja dapat Rp.10.000,00 dan uang ini pegang buat keperluan kita sehari-hari yah..”kata sang suami.

“alhamdulillah,baiklah Bang nanti nap usahain…oh iya bagaimana dengan hutang-hutang kita sama tetangga…?”tanya Nafisah sang istrinya.

“ya tinggal kita bayar saja pakai uang itu dulu,besok lagi Abang akan carikan lebih banyak lagi buat Nap…ok”sang suami menjelaskan.

“Oke bos…!”sang istripun mengangguk mengerti.

Malam itu kemudian mereka pergi kekamar tidur.haripun sudah mulai larut malam dan alam mimpipun terangan dalam diri mereka masing-masing.

Waktu subuh sudah tiba,istrinyapun mulai sakit perut  sehingga ia membangunkan suaminya yang sedang asik tidur pulas.

“duh bang..perutku sakit banget kayaknya anak ini mau keluar bang,tolong panggilin dukun beranak bang..!”

“masih pagi buta gini…?nap benar- benar mau lahirin,ya dah ntar abang bilang dulu ama ibu biar beliau bisa menjaga nap,biar abang panggil dukun beranak ya…”kata sang suaminya sambil keluar memanggil sang dukun beranak.

Kemudian ibunya nafisahpun datang menghampiri nafisah sambil membawa air putih,iapun berkata :

“nap..apakah kamu baik-baik saja,oya ini ibu bawakan air putih hangat,nih diminum dulu…!”
Tak lama kemudian ayah nafisah juga datang mengahampirinya.

”tenang nap,bentar lagi suamimu juga datang manggil Bu Maryam si dukun beranak itu..”kata ayahnya sambil menenangkan hati si nafisah

            Sepuluh menit sudah berlalu kemudian suami nafisah dan bu Maryam si dukun beranakpun datang.
“ayo semuanya keluar biar saya sama nafisah dikamar”kata Bu maryam
“biar saya juga ikut bantu”sambung ibunya nafisah

            Kini ayah nafisah dan suaminya harap-harap cemas.mereka selalu berdoa agar semuanya baik-baik saja.tak lama kemudian tetangganyapun ikut menjenguk nafisah,bagaimana kabar kelurga muhammad disaat itu.

Adzan shubuh mulai berkumandang tepat pada tanggal 27 Desember 1989,tak lama kemudian suara bayi didalam kamar terdengar menangis,itu pertanda bahwa sang bayi sudah lahir.mereka yang berada dirumah itu ucap syukur kehadirat sang ilah karena sang bayi lahir dengan selamat.

“mad-mad….anakmu laki-laki…!”ujar ibunya nafisah dari dalam kamar
“oyah…hore anaku laki-laki”sahut muhammad suami nafisah dengan gembiranya,Kemudian sang suami dan tetangganya langsung menuju kamar nafisah

“nak ahmad…selamat yach…!sekarang kamu dah jadi sang ayah,tapi…!!?”kata bu maryam
“tapi kenapa mbok…!”kata muhamad terheran-heran
“anakmu mungil dan kepalanya gembor seperti balon yang diisi air,saya khawatir dengan anak ini.kalau yang menggendong orang sembarangan saya takutkan kepalanya lembek dan hancur,makanya kalau bisa bayimu harus diperiksa kedokter…!”kata bu maryam menjelaskan

“apa anaku akan mati mbok…?”kata muhammad dengan sedih
“entahlah…!”
“tenang mad kamu harus sabar,insya Allah jika Allah menghendaki pasti dia hidup”kata ayahnya nafisah atau mertua Muhammad sambil menenangkan hati muhammad.

Sejak saat itu,bayi itu tak boleh digendong oleh siapapun kecuali si dukun beranak itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar